Minggu, 21 Maret 2010

Bocah Pengojek Payung

Sehabis pulang dari menjenguk adikku yang mondok di pondok pesantren di Sukabumi, aku kemudian mampir di toko buku Gramedia di Kota Bogor. Baru saja adzan ashar berkumandang, tiba-tiba...byur.. hujan turun dengan deras. Aku yang baru saja memilih buku, jadi ragu mau ke Masjid. Akhirnya, kutunggu hujan reda... eh, bukannya reda malah makin menjadi-jadi.

Berhubung waktu shalat terbatas, aku segera melangkah keluar toko... Tapi, hufff... hujannya deras sekali.
" Pak..payungnya pak!", tiba-tiba seorang anak pengojek payung mendekatiku.
" Berapa??... " ucapku otomatis.

" Memang mau kemana Pak ??..." ia bertanya dengan cekatan seakan melihat peluang.
" Itu dekat...ke Masjid" Kataku sambil menunjuk masjid disebrang jalan, sambil ke geeran disebut bapak... orang masih muda kok disebut bapak hehehe...
" Berapa aja deh...terserah bapak." kata anak itu. Ia kemudian memberikan payungnya padaku, dan membantuku menyebrang jalan menuju masjid. Sesampainya dimasjid aku pun memberikan uang Rp. 2000,00, aku tidak tau klo mereka biasa dibayar Rp 500,00. Selesai shalat aku kembali mengojek payung, sampai naik kedalam angkot.Dalam perjalanan pulang aku melihat, ternyata jumlah anak-anak pengojek payung tidak sedikit.

Musim hujan memang dijadikan sumber pencaharian bagi anak-anak pengojek payung.Dari pekerjaannya ini mereka bisa mendapatkan uang sampai Rp 30.000,00 perhari. Namun itu bukanlah hal mudah, mereka harus hujan-hujanan, mondar-mandir mencari pelanggan,dengan bayaran minimal Rp. 500, 00 perak untuk sekali jalan. Bandingkan saja dengan anak-anak lain yang uang jajannya saja bisa mencapai Rp. 10.000 perhari, belum lagi jika memiliki Hp, ditambah kebutuhan sekolah dan lainnya. Inikah gambaran dunia yang tak adil?, atau kita yang tak peduli...???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar