Pada Ahad 21 Maret kemaren, aku berkunjung ke Pesantren Al-Kahfi, Cijeruk, Bogor. Tak lain dan tak bukan, untuk menjenguk adikku yang akan menghadapi Ujian Nasional tgl 22-26 Maret. Wah, ternyata bukan maen-maen pemerintah kita... dari sekian Tryout aja cuma 2 kali adikku lulus. Belum lagi hasil Tryout yang diadakan oleh DikNas, dari hasil dua kali Tryout tidak lolos satu kali pun. Gara-garanya di Tryout pertama nilai Fisika kurang 0,25 dan di tryout kedua malah Matematika yang
mengalami nasib demikian, padahal itu berarti cuma kurang 1 soal lho. Teganya...
Bincang-bincang dengan adikku, aku jadi ikut tegang. Dulu waktu aku UAN tidak sekejam ini. Huff.... Aku cuma bisa memotivasi adikku untuk terus belajar, meyakinkannya bahwa ia pasti bisa lulus. (walau aku sendiri kadang ragu... apakah adikku ini bisa atau tidak). "Tapi tidak ada yang tidak bisa..." kataku, "Kalau Allah sudah berkehendak, sesuatu yang mustahil pun bisa terjadi...!, Ayo..mulai sekarang banyak berdoa! Qiyamullail, baca doa... adik kan sudah berusaha tinggal tawakkalnya saja sekarang ". Ya Allah, mudahkanlah ujian ini bagi adikku, bimbinglah ia menuju kemuliaan, mudahkanlah ya Allah.. mudahkanlah.!!.
Untuk adikku...Berjuang terus... kau bisa dek!!
Selasa, 23 Maret 2010
Minggu, 21 Maret 2010
Bocah Pengojek Payung
Sehabis pulang dari menjenguk adikku yang mondok di pondok pesantren di Sukabumi, aku kemudian mampir di toko buku Gramedia di Kota Bogor. Baru saja adzan ashar berkumandang, tiba-tiba...byur.. hujan turun dengan deras. Aku yang baru saja memilih buku, jadi ragu mau ke Masjid. Akhirnya, kutunggu hujan reda... eh, bukannya reda malah makin menjadi-jadi.
Berhubung waktu shalat terbatas, aku segera melangkah keluar toko... Tapi, hufff... hujannya deras sekali.
" Pak..payungnya pak!", tiba-tiba seorang anak pengojek payung mendekatiku.
" Berapa??... " ucapku otomatis.
Berhubung waktu shalat terbatas, aku segera melangkah keluar toko... Tapi, hufff... hujannya deras sekali.
" Pak..payungnya pak!", tiba-tiba seorang anak pengojek payung mendekatiku.
" Berapa??... " ucapku otomatis.
Label:
curhat
Jumat, 19 Maret 2010
Tak Pandai Bersyukur…
Ya Allah maafkan aku yang tak pandai bersyukur…, saat di berikan nikmat sehat aku tak merasa perlu bersyukur kepada-Mu, aku malah menuntut nikmat-nikmat lain yang kecil.Sekarang ketika aku sakit aku baru merasakan betapa mahalnya rasa sehat yang selama ini aku lupakan. Mau tidur gak enak, mau makan gak enak, mau aktivitas … pusing.
Ya Allah… Engkaulah yang memberikan penyakit ini dan Engkau pula yang menyabutnya. Aku memohon ampun atas kelalaianku selama ini, dan cabutlah segera penyakitku ini.
Ya Allah… mudah-mudahan penyakit ini merupakan penghapus bagi dosa-dosaku, karena Rasul-Mu berjanji. Tidak ada satu musibah pun bagi orang beriman, sampai duri di jalanan yang menusuknya, melainkan Allah tuliskan karena-Nya ampunan-Nya.
Bagi kawan-kawan yang masih diberikan nikmat sehat. Jangan sia-siakan… di isi dengan kebaikan, juga jaga kesehatan. Jangan ujan-ujanan yak!! Nanti sakit kayak aku.
Label:
curhat
Kamis, 18 Maret 2010
The Muslim Period
The Muslim period was from 600 to 1600 A.D in the history of chemistry and is know as the period of alchemist. in the middle ages, chemistry was given a spurt of work. During the first few centuries of Hijra, the Muslim Scientist made rich contribution to the various branches of science, specially in the field of chemistry and introduced scientific methods and experimantations. the modern scientific knowledge is based on the contributions of these Muslim scholars.
Senin, 15 Maret 2010
Mohamad Natsir; Sang Dai Pemandu Umat
Membaca Perjalanan dan Konsep Dakwah M. Natsir
I. PENDAHULUAN.
Pada tanggal 10 November 2008, Mohamad Natsir diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Keputusan ini disambut dengan sukacita oleh umat islam yang mengetahui betul jasa-jasa M. Natsir kepada bangsa Indonesia.
Jejak sejarah M. Natsir sebagai seorang tokoh bangsa tentu tidak diragukan lagi, para peneliti, sejarawan, bahkan para pelajar pun mengetahuinya. Namun dibalik peran besar beliau, ada sosok dai yang tercermin dalam kata-kata dan sikapnya. Tak pelak lagi, nilai-nilai islam yang integral dan komprehensif itulah yang mendorong M. Natsir tampil menjadi seorang pahlawan. Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi kita untuk mengetahui sosok Mohamad Natsir sebagai seorang Dai, juga mempelajari konsep dan pemikiran beliau di bidang dakwah islam.
II. BIOGRAFI DAN PERJALANAN DAKWAH M. NATSIR.
A. Riwayat hidup M. Natsir.
Mohammad Natsir Datuk Sinaro Panjang, dilahirkan pada tanggal 17 Juli 1908 di kampung Jambatan Baukia, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Ia anak ketiga dari empat bersaudara. Putra dari Idris Sutan Saripado dan Khadijah dikenal teguh menerapkan nilai-nilai islam.
I. PENDAHULUAN.
Pada tanggal 10 November 2008, Mohamad Natsir diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Keputusan ini disambut dengan sukacita oleh umat islam yang mengetahui betul jasa-jasa M. Natsir kepada bangsa Indonesia.
Jejak sejarah M. Natsir sebagai seorang tokoh bangsa tentu tidak diragukan lagi, para peneliti, sejarawan, bahkan para pelajar pun mengetahuinya. Namun dibalik peran besar beliau, ada sosok dai yang tercermin dalam kata-kata dan sikapnya. Tak pelak lagi, nilai-nilai islam yang integral dan komprehensif itulah yang mendorong M. Natsir tampil menjadi seorang pahlawan. Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi kita untuk mengetahui sosok Mohamad Natsir sebagai seorang Dai, juga mempelajari konsep dan pemikiran beliau di bidang dakwah islam.
II. BIOGRAFI DAN PERJALANAN DAKWAH M. NATSIR.
A. Riwayat hidup M. Natsir.
Mohammad Natsir Datuk Sinaro Panjang, dilahirkan pada tanggal 17 Juli 1908 di kampung Jambatan Baukia, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Ia anak ketiga dari empat bersaudara. Putra dari Idris Sutan Saripado dan Khadijah dikenal teguh menerapkan nilai-nilai islam.
Langganan:
Komentar (Atom)




